Rokok di atas rak buku itu langsung aku sambar, kunyalakan dan dengan segera aku hisap sambil menahan sesuatu yang ada dalam perasaan ini atau jiwa atau apalah aku pusing menamakan sesuatu ini, kepulan asap menyerubung hu…….
“Tae” semua, mengapa tuhan menciptakan perempuan untuk dicintai?’ terdengar suara teman sekamarku gaduh dengan dirinya sendiri. Sedangkan aku hanya berdiam menikmati rokok mengepul kemudian menjadi angan : ternyata omelanmu itu sesuai dengan apa yang aku rasakan kawan! Ucapku dalam hati.
Peserta kamarku suka dengan gaduh, ya kegaduhan dengan musik masing-masing, yang satu lebih pada dewa, satunya lagi iwan fals, tiap pagi sore malam, sond system berukuran sedang yang mampu menguasai ruangan nyaring. semua mulut bergerak melafazkan teks-teks lagu kesukaan mereka, sedangkan aku hanya dengan sebuah laptop bututku, kalah suara, kalah nyaring dan aku tenggelam dalam kegaduhan dengan nyanyian dan band favoritku I miss you but I hate you, dari slank.
Selama ini, aku hanya menikmati hidup, karena aku memang diajari untuk menikmatinya. Dalam hidupku tidak ada kamus untuk sengsara, tidak ada kamus penyesalan, asal di sana ada rokok dan kopi, toh meskipun nantinya aku akan menerima hidup ini dengan penyesalan tapi itu semua nanti, tidak ada untuk sekarang.
Yang aku nikmati sekarang hanyalah seseorang sosok, kemarin aku sudah berusaha untuk melukiskannya dan melampiaskannya ke dalam kanvas putih, tapi rasa untuk selalu bertemu tidak mungkin aku hindari, diriku patah dengan kecantikannya, suara beningnya, tinggal, sekarang aku menjadi batang, sendirian dalam obsesi.
Kemarin juga aku bercerita dengan kawanku, si shidqi : ( aku dan dia terbiasa memanggil jhon ).
“Jhon, gimana menurutmu tentang dia?”
Wahhhh….. dia tertawa, mulutnya terbuka dengan khas dia, aku lirik dia pas pada matanya. “ Jhon semua jawaban ada padamu, tapi menurutku dia…. ( sorry terusan dari-kata-katanya tidak bisa aku lanjutkan ) tapi aku tetap dukung jhon !” ungkapnya semakin sambil memukul-mukul pundakku.
“ Jhon dia monalisaku saat ini, dan akulah mingkenya, mingke yang akan selalu setia padanya” ucapku yakin.
Temanku itu ngakak lagi, tapi aku hanya diam, menatapnya, untuk menandakan keseriusanku.
“Udah berapa wanita lagi yang akan kau cipta sebagai monalisa jhon!” jawabnya. Kemudian dia meneruskan “ Dulu, saat ini dan masa yang akan datang apa masih kau akan jadi seperti ini? Dan tidak ada perubahan terbesitpun aku lihat di matamu jhon!, ibnu dulu sama dengan ibnu sekarang, kau harus berubah jhon!” kalimatnya dengan teguh.
“Ok jhon! Aku mengakui semua itu, tapi, yang ini, perasaan ini bukanlah barang loakan yang aku akan gampang untuk menjualnya dengan harga murah pada zaman jhon! Ini adalah mutiara, kamu sudah tahu bukan, bagaimana dia memberiku semangat, bagaimana bibirnya berkata untuk sekedar yang bermanfaat padaku meskipun hanya satu kata, semua itu tidak pernah aku temukan dari masalalu, adanya sekarang jhon!”
Sebentar kusumet rokokku, dengan tangan gemetar menandakan ada yang penting lagi harus aku katakan. Kemudian kopi sekali aku teguk.
“Dan satu lagi jhon! Aku tidak akan pernah mati dengan konyol hanya gara-gara seperti ini, tapi aku hanyalah menuruti kehendak yang selalu menjadi pukulan bagiku saat ini, dia laksana cemeti, laksana besi, yang bila tidak aku segerakan untuk melepas dan mengungkapkannya , aku mungkin sudah menjadi budak perasaan ini, aku mau lepas jhon!”, kemudian kubisiki padanya “ aku ingin lepas dengan mencintainya”.
Temanku shidqi kemudian tersenyum, sambil mematikan batang rokok pada asbak di depannya, “ Tapi ingat jhon! Kamu harus siap untuk menghadapi sesuatu yang tidak pernah kamu sangka”, kemudian aku menyela “ apa itu ?” hmm…tahun depan mungkin ada monalisa lagi dalam otakmu itu”. Suara tawa kemudian spontan menyeruak ruangan salah satu kamar di skretariat IKBAL malam itu.
Di kamar itu, memang hanya ada aku dan temanku berkacamata itu, lampu neon besar menghasilkan terang ruangan. Selanjutnya gantian dia-temanku- berbicara tentang sobat lamanya, aku pun dengan serta merta menyimak sebagai wadah buat perasaannya, dia bercerita dengan layaknya pengagum bercerita tentang tokoh besar, dan ujung-ujungnya pertemuan ini adalah ungkapan lumrah manusia kagum pada manusia lain, inilah alam malam ini, berisi saling mengagumi.
Lama dia bercerita, dan terakhir dia meberitahu nama kawannya itu padaku, akupun mengisaratkan padanya bahwa aku juga akan menyampaikan sesuatu yang tertinggal di depan perbincangan.
“ Jhon!, apa kamu sudah tahu nama monalisaku itu? Yang jelas bukan seperti monalisa, di buku The Buruh quartet karangan mbah pramoedya itu”.
“ Belum kawan ! ayolah katakan padaku siapakah namanya, nama wanita yang kau samakan dengan monalisa itu”. Tanyanya penasaran.
“ Hanya sebuah huruf H kamu dapat menerkan namanya…( Sekali lagi maaf tidak bisa menuliskan di sini, abstrak ), dan dalam setiap sholat kamu akan mendapatinya, namanya indah, semoga sosoknya sepadan dengan pujian namanya”.
“ Terus, lho kok semoga, apa kamu masih belum tahu bagaimana dia? Apakah kamu pernah berbicara padanya atau pernahkah kamu saling bertegur sapa?”. Muka temanku memamerkan keheranan, dia sedikit mengangkat posisi kaca matanya.
Aku bernafas sebentar, kulihat rokok di depanku, mulai menipis, kureguh kantongku, tidak ada yang mengganjal di dalamnya, menandakan bahwa aku sudah semenjak tiga bulan yang lalu belum dikirim. Entah beberapa batang rokok yang perlu kami hisap di tengah-tengah ruangan pemuja ini, tapi tidak lama aku menggantung kalimat temanku tadi, secepat aku jawab.
“Belum jhon, sekalipun aku belum pernah bertegur sapa dengannya apalagi jauh-jauh untuk berbincang, aku masih kalah dengan malu, aku masih belum berani, mulutku masih belum terlalu berbisa untuk menghadapinya. Makanya, aku di sini, ingin memintamu untuk mengajarkan kata-kata berani semacam che gue vara dalam revolusinya yang bisa membuatku selalu berani”.
Kembali ruangan itu terseruak dengan tawa, entah darimana tawa itu datang, sedangkan temanku shidqi tertawa dengan keheranan, mungkin karena aku tidak pernah menyapa atau hanya kenal dengan begitu saja dengan perempuan yang aku sebut monalisa tadi.
“Satu lagi jhon!” dia bersuara lagi. “ Apa kamu tahu, perasaannya sama dengan perasanmu saat ini, yaitu mencintaimu?. Atau apakah kamu tahu bahwa tiada seorangpun yang memilikinya?” shidqi kemudian beralih pada kopi, dan meminumnya.
“ He…kalau itu aku belum tahu juga jhon, yang tahu hanya dia dan tuhan, tapi aku berharap dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku saat ini, dan tidak ada siapapun yang memilikinya”. Jawabku dengan berusaha yakin.
Malam mulai menunjukkan ganasnya, dingin menggigil. Aku dan temanku ingin segera mengakhiri perbincangan panjang ini. Tapi sebelum semua mengakhiri, teman satuku itu berpetuah harapan.
“ Jhon! Aku berharap kau segera menuliskan surat cinta buatnya, dan aku berharap juga dia dapat menerima segala kekurangan yang ada pada dirimu, demikian juga kamu sebaliknya, karena tidak ada manusia yang sempurna! Gimana?, mau aku tuliskan surat cinta buatnya?”. Dia berucap sambil tersenyum, akupun membalasnya dengan senyum. Sambil menggelengkan kepala aku dan Shidqi berdiri mengakhiri, bubar dengan membawa jiwa masing-masing.
Dan sekarang di depan laptopku, aku masih menulis surat cinta buatnya, tak lepas dari kopi dan sebungkus rokok diapit oleh dengungan lagu iwan fals dan dewa, buat siapa lagi kalau bukan buat monalisaku, bisakah kau menunggu suratku monalisa! Atau bisakah tulisan ini mewakili surat cinta itu?