Menghayati Ciptaan Tuhan


.
Tanks To
Allah SWT, Bapak Dan Ibu, Agus Romli Terima Kasih Atas Bantuannya dan Teman Dekatku Di Dunia Ini Yang Tak Perlu Aku Utarakan Disini .
Media Berita Nasional
Pesan Singkat


Tagboard by Tag-World

Name:

URL or Email:

Message [Smilies]:

Foto
.
Waktu Kairo
.
Friday, February 10, 2006
Opera Gadis Pyramid
Seperti biasa, setiap malam minggu aku pergi ke opera dekat kampus, tepatnya di daerah el-hay-sadis, komplek Al-Azhar. Pertunjukan biasanya membikin mata takjub dan terhibur. Peran dan acting serta alur cerita yang ditampilkan sungguh sangat menarik, mungkin karena aku orang asing, jadinya ketika melihat kebudayaan asing, aku jadi takjub.

Buat pengganti rokok, karena di dalam raungan sana dilarang, aku membeli makanan ringan, seperti kacang, karuci dan sejenisnya. Atau ketika aku berangkat dalam keadaan perut kosong, sedianya mampir ke babye lebih dulu, lokasinya di Masakin oesman, yaitu semacam kedai yang menyediakan makanan mesir, tho’miyah bil-bait, atau bil ful dan sejenisnya, hitung-hitung cukup buat pengganjal perut.

Lampu mati, puluhan bahkan ratusan orang memadati ruangan opera, semenjak satu tahun aku di sini dan yang aku tahu, setiap pertunjukan tidak akan pernah sepi dari penonton yang berjerubun, entah daya tarik apa yang membuat mereka tidak pernah absen dalam opera ini, mungkin hanya inilah tontonan mereka, setelah kebebasan berekpresi di negeri ini terisolasi oleh pemerintah. Semuanya cenderung diatur, kayak orba gitu di Indonesia.

Expresi lampu kemudian diikuti dengan suara prolog dari dalam pentas. Di saat-saat seperti itu aku pasang telinga, mendengar prolog. “ Mesir, wanita dan tantangan zaman” begitulah inti dari prolog tadi, berarti tema sekarang adalah wanita, pikirku.

Setelah prolog selesai, muncullah dua gadis cantik dengan kerudung adat ala mesir zaman firoun, belaian-belaian kain sutra yang mengahiasinya menambah kerlipan kecantikan gadis muda tadi. Mereka kemudian menari, sambil bernyanyi, terdengar nyanyian kebanggaa rakyat mesir zaman dulu, nyanyian adalah tanda bahwa kedua anak dara raja itu terdidik.

Alat musik menjadi irama, irama dengan iringan tarian indah. Dalam opera ini keduanya dijadikan anak raja yang kemudian menikah dengan seorang kuli yang gagah berani. Waktu itu mata ini tidak pernah berkedip memandang kecantikan gadis itu, mesir-oh mesir, gudangnya gadis cantik, lorohku membatin.

“Yaaa , shin ( China )!” suara itu terdengar dari samping, ada pria muda menatapku dengan senyum dibibirnya. Kugelengkan kepala dengan terus menatapnya, arti dari ketidaktahuan, dia kemudian kembali berucap “ Inta shin ( China ) ?” Ohhhh, “la’ ana indonesi” ujarku sambil melirik kembali ke atas panggung opera. Dan ternyata kedua gadis itu sudah keluar panggung, bangsat laki-laki ini, hasrat untuk melihat dua gadis itu secara sempurna sudah lenyap, batinku, kali ini pada pria muda ini. Memang seperti biasa, setiap orang asia mereka panggil shin, entah kenapa.

Sejenak, panggung kembali dipenuhi oleh gadis-gadis cantik mesir. Dalam opera ini gadis-gadis itu diumpamakan dengan selir-selir raja zaman dulu. Mereka membawa buah-buahan tanda kemewahan istana, mereka kemudian memasang mata,mulut, paha, betis dan semua anggotah tubuh yang sekiranya menjadi menarik bagi sang raja.

Kemudian aku teringat dengan pelajaran nudzum diktat Al-Azhar itu, memang, dalam buku itu tertulis cerita bagaimana mesir pada masa kerajaan dulu, termasuk bagaiamana wanitanya. Belum lama suara dari samping kiriku terdengar lagi.

“Yahrib baitak” ucapnya. Entah tujuannya padaku atau hanya kata-kata yang terlontar dengan sendirinya, aku tak menghiraukan, mataku tetap mengarah ke atas panggung. Tapi kemudian dia menyentuh tanganku dengan kalimat tadi. Risih, jelas ada, tapi, nampak di jeda alis dan dahinya ada kerutan tanda kekecewaan orang itu, entah pada apa? Mengakhiri penasaran tadi, “ yaa ahmad lih inta ?” tanyaku dengan menjulurkan tangan layaknya orang mesir ketika bertanya sesuatu, dan panggilan ahmad adalah salahsatu panggilah seseorang yang belum dikenal.

“Anda lihat tadi, bagaimana gadis itu memakai segala perhiasan?.” Sambil menunjuk ke panggung.

“iya, kenapa?” Jawabku dengan bahasa arab yang fasih.


“Perhiasan itu tetap mereka pakai sekarang, bahkan sudah mulai berlebihan” teriak orang tadi di tengah gemuruh tepuk tangan pada salah satu pemeran yang memikat. Terus, tanpa diminta pria muda berhidung lonjong dengan rambut agk ikal itu mengalirkan ceritanya, sesekali dengan pertanyaan, melihat mukanya sedikit aku teringat pada seseorang, tapi ah tidak mungkin ada hubungan dengan orang ini.

“Anda tahu berapa umurku?” Sambil memegang kepalanya, akupun menggelengkan kepala, tontonan opera terpaksa aku gantikan dengan omongan orang ini.

“Aku sudah berumur tiga lima lebih lima bulan, sebegini umurku tapi aku masih belum beristri, tahu anda kenapa ?” sambil melonjorkan mukanya dekat telingaku. Akupun masih dalam isayarat yang sama menggelengkan kepala.

“Perempuan di sini mahal, itulah yang aku maksud dengan perhiasan gadis mesir yang berlebihan” sambil condong kemukanya, aku kembali terheran. Karena kata-kata itu pernah aku dengar dari seniorku yang sudah bertahun-tahun di sini. Banyak pertanyaan yang kemudian muncul bergerak menghampiri otakku, benarkah perempuan mesir mahal? Dari mana hukumnya? Bagaimana nanti dengan mariam pacarku? Apa aku harus mengeluarkan banyak gocek untuk menikahinya?.

“Berapa mahar yang harus kamu sediakan jika kamu ingin menikah?” tanyaku.

“Mobil, syaqqah, dan semua harta akan menjadi milik istrimu” jelasnya.

“Pekerjaan kamu apa ?” tanyaku lagi

“Sopir taksi.” Jawabnya singkat.

Aku kembali teringat pada mariam. Tapi mariam pernah bilang padaku ketika aku tanyakan perihal serupa, dia hanya bilang bahwa itu tidak benar, itu adalah tradisi zaman kuno. Terus bagaimana dengan ucapan pria ini, apakah perkataan mariam hanya sebagai lipstick cinta belaka padaku?. Sambil aku letakkan mataku pada panggung, namun, pikiran berpisah, lebih tertarik memikirkan bagaimana nanti aku dengan mariam.

Mariam, adalah gadis yang aku kenal sejak setengah tahun yang lalu, dia menjadi bening ketika aku lihat, dia menjadi salju ketika aku sapa. Ahh mariam, gadis mesir yang sangat cantik, dan suka akan kelembutan. Awal aku menjalin hubuangan kasih bersamanya, adalah awal jati diriku. Aku benar-benar jatuh cinta pada gadis ini, sampai kapan aku akan bebas dari kebeningannya?.

Kemudian gemuruh takjub kembali terdengar, opera itu sudah sampai di tengah episode, sementara perbincanganku dengan pria ini kembali berlanjut, tanpa menghiraukan sisi samping, atau opera, sesekali aku juga cerita kisah cintaku dengan mariam padanya.

Opera ini bisa kembali digelar minggu besok tapi mariam adalah opera cintaku, tidak ada besok bagi cintanya, kalau sudah bubar ya sudah, opera cinta gadis cantik itu tidak akan digelar lagi, batinku. sembari meneguhkan untuk kembali bertanya yang berkaitan dengan problematika para gadis pyramid.

#

Sudah dua jam opera itu berlansung, tinggal setengah jam lagi akan berakhir, aku harus mengakhiri bincang-bincangku ini. “Sudah dua jam sebentar lagi opera akan berakhir?” ujarku padanya, sambil memperlihatkan jarum jam tanganku.

“ Kawan cinta adalah opera, kalau kamu berperan dengan baik dan tulus, maka jutaan orang akan memujamu, namun jika sebaliknya orang akn mencercamu. Opera tidaklah mahal, murah, demikian juga dengan cinta, cinta tidaklah mahal, gadis juga bukan hanya dengan mobil mewah, tapi dia butuh kasih sayang. Mariam ! mariam ! Dia itu adikku, dia sangat mencintaimu mahfudz!, aku suka peranmu aku suka jalan cerita operamu, jangan seperti aku, kamu harus cepat kawin”. Ujarnya sambil merangkul tangan kiriku dengan akrab. Akupun terkejut. I am shy, mukaku merah.

Malam kemudian merangkulku dengan opera cinta mariam. Entah berapa lama lagi opera ini akan menjadi kenyataan?.
posted by ibnukusuma @ 3:27 AM   0 comments
Wednesday, February 08, 2006
Hanya Sebuah Huruf H
Rokok di atas rak buku itu langsung aku sambar, kunyalakan dan dengan segera aku hisap sambil menahan sesuatu yang ada dalam perasaan ini atau jiwa atau apalah aku pusing menamakan sesuatu ini, kepulan asap menyerubung hu…….

“Tae” semua, mengapa tuhan menciptakan perempuan untuk dicintai?’ terdengar suara teman sekamarku gaduh dengan dirinya sendiri. Sedangkan aku hanya berdiam menikmati rokok mengepul kemudian menjadi angan : ternyata omelanmu itu sesuai dengan apa yang aku rasakan kawan! Ucapku dalam hati.

Peserta kamarku suka dengan gaduh, ya kegaduhan dengan musik masing-masing, yang satu lebih pada dewa, satunya lagi iwan fals, tiap pagi sore malam, sond system berukuran sedang yang mampu menguasai ruangan nyaring. semua mulut bergerak melafazkan teks-teks lagu kesukaan mereka, sedangkan aku hanya dengan sebuah laptop bututku, kalah suara, kalah nyaring dan aku tenggelam dalam kegaduhan dengan nyanyian dan band favoritku I miss you but I hate you, dari slank.

Selama ini, aku hanya menikmati hidup, karena aku memang diajari untuk menikmatinya. Dalam hidupku tidak ada kamus untuk sengsara, tidak ada kamus penyesalan, asal di sana ada rokok dan kopi, toh meskipun nantinya aku akan menerima hidup ini dengan penyesalan tapi itu semua nanti, tidak ada untuk sekarang.

Yang aku nikmati sekarang hanyalah seseorang sosok, kemarin aku sudah berusaha untuk melukiskannya dan melampiaskannya ke dalam kanvas putih, tapi rasa untuk selalu bertemu tidak mungkin aku hindari, diriku patah dengan kecantikannya, suara beningnya, tinggal, sekarang aku menjadi batang, sendirian dalam obsesi.

Kemarin juga aku bercerita dengan kawanku, si shidqi : ( aku dan dia terbiasa memanggil jhon ).

“Jhon, gimana menurutmu tentang dia?”

Wahhhh….. dia tertawa, mulutnya terbuka dengan khas dia, aku lirik dia pas pada matanya. “ Jhon semua jawaban ada padamu, tapi menurutku dia…. ( sorry terusan dari-kata-katanya tidak bisa aku lanjutkan ) tapi aku tetap dukung jhon !” ungkapnya semakin sambil memukul-mukul pundakku.

“ Jhon dia monalisaku saat ini, dan akulah mingkenya, mingke yang akan selalu setia padanya” ucapku yakin.

Temanku itu ngakak lagi, tapi aku hanya diam, menatapnya, untuk menandakan keseriusanku.

“Udah berapa wanita lagi yang akan kau cipta sebagai monalisa jhon!” jawabnya. Kemudian dia meneruskan “ Dulu, saat ini dan masa yang akan datang apa masih kau akan jadi seperti ini? Dan tidak ada perubahan terbesitpun aku lihat di matamu jhon!, ibnu dulu sama dengan ibnu sekarang, kau harus berubah jhon!” kalimatnya dengan teguh.

“Ok jhon! Aku mengakui semua itu, tapi, yang ini, perasaan ini bukanlah barang loakan yang aku akan gampang untuk menjualnya dengan harga murah pada zaman jhon! Ini adalah mutiara, kamu sudah tahu bukan, bagaimana dia memberiku semangat, bagaimana bibirnya berkata untuk sekedar yang bermanfaat padaku meskipun hanya satu kata, semua itu tidak pernah aku temukan dari masalalu, adanya sekarang jhon!”

Sebentar kusumet rokokku, dengan tangan gemetar menandakan ada yang penting lagi harus aku katakan. Kemudian kopi sekali aku teguk.

“Dan satu lagi jhon! Aku tidak akan pernah mati dengan konyol hanya gara-gara seperti ini, tapi aku hanyalah menuruti kehendak yang selalu menjadi pukulan bagiku saat ini, dia laksana cemeti, laksana besi, yang bila tidak aku segerakan untuk melepas dan mengungkapkannya , aku mungkin sudah menjadi budak perasaan ini, aku mau lepas jhon!”, kemudian kubisiki padanya “ aku ingin lepas dengan mencintainya”.

Temanku shidqi kemudian tersenyum, sambil mematikan batang rokok pada asbak di depannya, “ Tapi ingat jhon! Kamu harus siap untuk menghadapi sesuatu yang tidak pernah kamu sangka”, kemudian aku menyela “ apa itu ?” hmm…tahun depan mungkin ada monalisa lagi dalam otakmu itu”. Suara tawa kemudian spontan menyeruak ruangan salah satu kamar di skretariat IKBAL malam itu.

Di kamar itu, memang hanya ada aku dan temanku berkacamata itu, lampu neon besar menghasilkan terang ruangan. Selanjutnya gantian dia-temanku- berbicara tentang sobat lamanya, aku pun dengan serta merta menyimak sebagai wadah buat perasaannya, dia bercerita dengan layaknya pengagum bercerita tentang tokoh besar, dan ujung-ujungnya pertemuan ini adalah ungkapan lumrah manusia kagum pada manusia lain, inilah alam malam ini, berisi saling mengagumi.

Lama dia bercerita, dan terakhir dia meberitahu nama kawannya itu padaku, akupun mengisaratkan padanya bahwa aku juga akan menyampaikan sesuatu yang tertinggal di depan perbincangan.

“ Jhon!, apa kamu sudah tahu nama monalisaku itu? Yang jelas bukan seperti monalisa, di buku The Buruh quartet karangan mbah pramoedya itu”.

“ Belum kawan ! ayolah katakan padaku siapakah namanya, nama wanita yang kau samakan dengan monalisa itu”. Tanyanya penasaran.

“ Hanya sebuah huruf H kamu dapat menerkan namanya…( Sekali lagi maaf tidak bisa menuliskan di sini, abstrak ), dan dalam setiap sholat kamu akan mendapatinya, namanya indah, semoga sosoknya sepadan dengan pujian namanya”.

“ Terus, lho kok semoga, apa kamu masih belum tahu bagaimana dia? Apakah kamu pernah berbicara padanya atau pernahkah kamu saling bertegur sapa?”. Muka temanku memamerkan keheranan, dia sedikit mengangkat posisi kaca matanya.

Aku bernafas sebentar, kulihat rokok di depanku, mulai menipis, kureguh kantongku, tidak ada yang mengganjal di dalamnya, menandakan bahwa aku sudah semenjak tiga bulan yang lalu belum dikirim. Entah beberapa batang rokok yang perlu kami hisap di tengah-tengah ruangan pemuja ini, tapi tidak lama aku menggantung kalimat temanku tadi, secepat aku jawab.

“Belum jhon, sekalipun aku belum pernah bertegur sapa dengannya apalagi jauh-jauh untuk berbincang, aku masih kalah dengan malu, aku masih belum berani, mulutku masih belum terlalu berbisa untuk menghadapinya. Makanya, aku di sini, ingin memintamu untuk mengajarkan kata-kata berani semacam che gue vara dalam revolusinya yang bisa membuatku selalu berani”.

Kembali ruangan itu terseruak dengan tawa, entah darimana tawa itu datang, sedangkan temanku shidqi tertawa dengan keheranan, mungkin karena aku tidak pernah menyapa atau hanya kenal dengan begitu saja dengan perempuan yang aku sebut monalisa tadi.

“Satu lagi jhon!” dia bersuara lagi. “ Apa kamu tahu, perasaannya sama dengan perasanmu saat ini, yaitu mencintaimu?. Atau apakah kamu tahu bahwa tiada seorangpun yang memilikinya?” shidqi kemudian beralih pada kopi, dan meminumnya.

“ He…kalau itu aku belum tahu juga jhon, yang tahu hanya dia dan tuhan, tapi aku berharap dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku saat ini, dan tidak ada siapapun yang memilikinya”. Jawabku dengan berusaha yakin.

Malam mulai menunjukkan ganasnya, dingin menggigil. Aku dan temanku ingin segera mengakhiri perbincangan panjang ini. Tapi sebelum semua mengakhiri, teman satuku itu berpetuah harapan.

“ Jhon! Aku berharap kau segera menuliskan surat cinta buatnya, dan aku berharap juga dia dapat menerima segala kekurangan yang ada pada dirimu, demikian juga kamu sebaliknya, karena tidak ada manusia yang sempurna! Gimana?, mau aku tuliskan surat cinta buatnya?”. Dia berucap sambil tersenyum, akupun membalasnya dengan senyum.
Sambil menggelengkan kepala aku dan Shidqi berdiri mengakhiri, bubar dengan membawa jiwa masing-masing.

Dan sekarang di depan laptopku, aku masih menulis surat cinta buatnya, tak lepas dari kopi dan sebungkus rokok diapit oleh dengungan lagu iwan fals dan dewa, buat siapa lagi kalau bukan buat monalisaku, bisakah kau menunggu suratku monalisa! Atau bisakah tulisan ini mewakili surat cinta itu?

3-02-2006
posted by ibnukusuma @ 2:00 AM   0 comments
About Me

Name:Ibnu Kusuma
Home:Egypt Cairo
About Me:
See my complete profile at Friendster
Previous Post
Archives
Patner
Dengerin Musik


|